Posted on July 4th, 2008
Tiga bulan yang lalu, tepatnya Februari 2008, saya membuat keputusan signifikan sepanjang kehidupan saya.
Yaitu berpindah sisi meja, dari menerima gaji, menjadi memberi gaji alias mendirikan perusahaan sendiri. Padahal kantor tempat saya bekerja merupakan perusahaan terkenal, posisi saya strategis dan menantang, dan lingkungan kerjanya menyenangkan.
Perubahan ini, terutama bagi mereka yang sudah cukup lama bekerja di perusahaan dan sudah berkeluarga, merupakan hal yang menakutkan.
Pada waktu kita masih single, kalau ada kesulitan keuangan, yang menderita cukup diri sendiri saja. Sedangkan bila kita sudah berkeluarga, bokek bisa berakibat fatal bagi istri dan anak. Saya pernah mengalami masa melarat dulu di Surabaya sekitar tahun 2001-2002. Saking bokeknya, kami (saya dan teman-teman serumah) tidak punya uang untuk membeli lauk. Hanya ada nasi. Akhirnya, kami memetik daun kelor yang tumbuh di pekarangan dan merebusnya sebagai teman nasi. Jika ada yang memiliki ilmu kebatinan, pasti akan luntur seketika :p. Setelah berkeluarga, tentunya kita ingin memastikan bahwa jangan sampai anggota keluarga kita terpaksa makan sayur daun kelor.
Tidak sedikit teman-teman yang bertanya bagaimana cara melakukan peralihan dari karyawan menjadi wirausahawan dengan mulus. Yah, saat ini saya juga masih belum menjadi pengusaha sukses. Masih berjuang. Tapi ada sedikit pengalaman yang bisa saya ceritakan pada mereka-mereka yang ingin mengikuti jejak saya.
Di jaman serba sulit seperti ini, akan lebih baik jika kita bisa mandiri menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Jadi, semakin banyak pengusaha, semakin cepat Indonesia akan bangkit dari keterpurukan nasional.
Kerja kantoran dulu kemudian buka usaha sendiri berbeda dengan lulus sekolah dan langsung buka usaha. Masing-masing ada plus-minusnya.
Jika kita langsung buka usaha, kita biasanya akan:
- terbiasa dengan kondisi finansial yang tidak menentu. Kadang kaya raya, kadang melarat.
- memiliki jiwa sales (ini adalah karakteristik penting yang akan saya bahas lebih lanjut nanti)
- berorientasi hasil, bukan jam kerja
- miskin pengalaman, sehingga usaha sulit maju
Sebaliknya, bila kita jadi karyawan dulu, biasanya kita:
- terbiasa gajian di akhir bulan dengan jumlah fixed.
- naluri pemburu kurang terasah, kecuali yang bekerja di lini penjualan
- berorientasi jam kerja, lewat jam kantor masih kerja, hitung lembur
- sudah mengenal sistem birokrasi kantoran dengan hirarki kekuasaan dan wewenang
- terbiasa dengan prosedur yang baku (bila bekerja di perusahaan yang rapi)
Masing-masing starting-position memiliki plus minusnya. Yang akan kita bahas sekarang adalah start dari posisi karyawan. Mungkin lain waktu kita akan bahas tentang start langsung jadi pengusaha.
Untuk bisa beralih dengan mulus, ada beberapa persiapan terutama dari aspek pola pikir dan gaya hidup.
Pola pikir yang dibutuhkan adalah:
- Orientasi terhadap hasil
- Sense of urgency
- Kepekaan terhadap peluang
Sedangkan gaya hidup yang dibutuhkan adalah:
- Multiple Stream of Income (MSI).
- Aktif di komunitas, baik fisik maupun maya.
Mari kita bahas satu persatu.
Read more »
Posted in Life, Manajemen | 9 Comments »