Menggunakan Log4J

Posted on July 19th, 2008

Menggunakan log4j

Pada waktu SMU dulu, saya dan teman-teman saya membentuk grup band. Sebagai band amatiran, kami hanya tampil kalau ada pentas seni di sekolah, atau kalau ada acara tujuh-belasan di lapangan dekat rumah. Yang ingin tampil di event tersebut tidak hanya band kami, tapi juga puluhan band amatir lainnya. Karena demand jauh melebihi supply, seringkali kami justru harus membayar uang pendaftaran agar bisa tampil.

Sama dengan band remaja pada umumnya, kami punya impian menjadi rock-star. Tidak usah mengeluarkan album dulu lah … setidaknya kami dibayar setiap kali tampil. Bukannya malah membayar.

Suatu ketika, pemain bas kami mengajak kami berkenalan dengan salah satu sepupunya yang juga punya band. Tidak seperti kami yang amatiran, band sepupu ini lebih profesional. Mereka sudah punya slot tampil rutin di beberapa kafe, yang tentu saja … dibayar :D

Setelah ngobrol kesana-sini, akhirnya kami diajak untuk datang ke kafe dan menonton penampilan mereka.
Read more »

Road to Java SE

Posted on July 13th, 2008

Belajar bahasa pemrograman mirip dengan belajar bahasa manusia. Bahasa pertama adalah yang paling sulit. Ini disebabkan karena kita belum paham istilah-istilah yang digunakan, pola umum menyusun kata, dan ungkapan-ungkapan khusus yang biasa digunakan dalam bahasa tertentu.

Mari kita ingat waktu pertama kali belajar bahasa Inggris (bahasa Indonesia tidak dihitung, karena kita sudah bisa dari kecil). Pertama kali, kita sama sekali tidak tahu vocabulary. Kemudian kita belajar tentang susunan kata, Subjek-Predikat-Objek. Belajar kalimat aktif dan pasif.

Demikian juga dengan bahasa pemrograman. Bahasa pertama selalu paling sulit. Setelah kita menguasai satu bahasa, belajar bahasa berikutnya tidak sesulit yang pertama. Misalnya kita butuh waktu enam bulan untuk menguasai Java, maka untuk belajar PHP mungkin cuma butuh 2 bulan.

Dengan asumsi kita sama sekali belum pernah mengenal bahasa pemrograman, berikut adalah peta jalan untuk belajar bahasa pemrograman Java.
Read more »

Wirausaha

Posted on July 4th, 2008

Tiga bulan yang lalu, tepatnya Februari 2008, saya membuat keputusan signifikan sepanjang kehidupan saya.
Yaitu berpindah sisi meja, dari menerima gaji, menjadi memberi gaji alias mendirikan perusahaan sendiri. Padahal kantor tempat saya bekerja merupakan perusahaan terkenal, posisi saya strategis dan menantang, dan lingkungan kerjanya menyenangkan.

Perubahan ini, terutama bagi mereka yang sudah cukup lama bekerja di perusahaan dan sudah berkeluarga, merupakan hal yang menakutkan.
Pada waktu kita masih single, kalau ada kesulitan keuangan, yang menderita cukup diri sendiri saja. Sedangkan bila kita sudah berkeluarga, bokek bisa berakibat fatal bagi istri dan anak. Saya pernah mengalami masa melarat dulu di Surabaya sekitar tahun 2001-2002. Saking bokeknya, kami (saya dan teman-teman serumah) tidak punya uang untuk membeli lauk. Hanya ada nasi. Akhirnya, kami memetik daun kelor yang tumbuh di pekarangan dan merebusnya sebagai teman nasi. Jika ada yang memiliki ilmu kebatinan, pasti akan luntur seketika :p. Setelah berkeluarga, tentunya kita ingin memastikan bahwa jangan sampai anggota keluarga kita terpaksa makan sayur daun kelor.

Tidak sedikit teman-teman yang bertanya bagaimana cara melakukan peralihan dari karyawan menjadi wirausahawan dengan mulus. Yah, saat ini saya juga masih belum menjadi pengusaha sukses. Masih berjuang. Tapi ada sedikit pengalaman yang bisa saya ceritakan pada mereka-mereka yang ingin mengikuti jejak saya.

Di jaman serba sulit seperti ini, akan lebih baik jika kita bisa mandiri menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Jadi, semakin banyak pengusaha, semakin cepat Indonesia akan bangkit dari keterpurukan nasional.

Kerja kantoran dulu kemudian buka usaha sendiri berbeda dengan lulus sekolah dan langsung buka usaha. Masing-masing ada plus-minusnya.

Jika kita langsung buka usaha, kita biasanya akan:

  • terbiasa dengan kondisi finansial yang tidak menentu. Kadang kaya raya, kadang melarat.
  • memiliki jiwa sales (ini adalah karakteristik penting yang akan saya bahas lebih lanjut nanti)
  • berorientasi hasil, bukan jam kerja
  • miskin pengalaman, sehingga usaha sulit maju

Sebaliknya, bila kita jadi karyawan dulu, biasanya kita:

  • terbiasa gajian di akhir bulan dengan jumlah fixed.
  • naluri pemburu kurang terasah, kecuali yang bekerja di lini penjualan
  • berorientasi jam kerja, lewat jam kantor masih kerja, hitung lembur
  • sudah mengenal sistem birokrasi kantoran dengan hirarki kekuasaan dan wewenang
  • terbiasa dengan prosedur yang baku (bila bekerja di perusahaan yang rapi)

Masing-masing starting-position memiliki plus minusnya. Yang akan kita bahas sekarang adalah start dari posisi karyawan. Mungkin lain waktu kita akan bahas tentang start langsung jadi pengusaha.

Untuk bisa beralih dengan mulus, ada beberapa persiapan terutama dari aspek pola pikir dan gaya hidup.

Pola pikir yang dibutuhkan adalah:

  • Orientasi terhadap hasil
  • Sense of urgency
  • Kepekaan terhadap peluang

Sedangkan gaya hidup yang dibutuhkan adalah:

  • Multiple Stream of Income (MSI).
  • Aktif di komunitas, baik fisik maupun maya.

Mari kita bahas satu persatu.
Read more »

Apa itu CMMI?

Posted on June 17th, 2008

Di milis Asosiasi Pengembang Perangkat Lunak Indonesia (APPLI) ramai dibahas mengenai standarisasi dalam pengembangan perangkat lunak. Salah satu standar yang populer digunakan adalah CMMI (Capability Maturity Model Integration) yang dikembangkan oleh Carnegie-Mellon University, untuk lebih tepatnya dalam departemen Software Engineering Institute. Selain itu, ada juga blog ini dan ini yang membahas tentang CMMI.

Dengan adanya standar, organisasi dapat berkembang dengan lebih terarah. Semua anggota organisasi mulai dari programmer, analis, tester, manajer, dan direktur menjadi tahu apa ruang lingkup pekerjaannya. Apa yang harus disediakan bagi pihak lain, dan juga apa yang bisa diharapkan dari departemen lain. Dengan demikian, tidak banyak effort yang terbuang karena miskomunikasi atau kurang koordinasi.

Sayangnya, dunia enterpreneur IT di Indonesia masih jarang yang hirau terhadap masalah standarisasi ini. Berbagai alasan dikemukakan, antara lain:

  • Tidak mengerti bahasa Inggris
  • Standar luar negeri tidak cocok untuk kondisi lokal
  • Standar membuat organisasi monoton dan membosankan
  • dan segudang alasan lainnya

Read more »

Long time no see

Posted on June 11th, 2008

Mohon maaf bagi pembaca setia blog saya, karena sudah lama tidak ada artikel baru. Pada Februari 2008 yang lalu, saya mengambil keputusan yang mengubah arah hidup saya, mudah-mudahan ke arah yang lebih baik.

Saya mengundurkan diri dari posisi empuk dan pekerjaan menantang di Sigma Karya Sempurna (BaliCamp) dan memutuskan untuk menggarap ArtiVisi secara lebih serius bersama Ifnu.

Sebagai perusahaan start-up, banyak hal yang harus dilakukan pada masa awal berdirinya perusahaan. Hal-hal teknis seperti setup repository server dan hal non teknis seperti rumus penggajian pegawai, aturan cuti, dan sebagainya harus dipikirkan dan dibuatkan prosedurnya. Belum lagi pengembangan produk pelatihan dan standarisasi kualitas bahan ajar. Dan yang paling penting, cari proyek supaya dapur tetap ngebul. Sehingga akibatnya aktivitas blogging menjadi kalah prioritas.

Setelah empat bulan berlalu, banyak pengalaman yang didapat, dan juga banyak project yang sudah closing. Urusan non teknis yang penting juga sudah banyak yang bisa didelegasikan. Karena itu, mudah-mudahan saya bisa mengisi blog lagi.

Beberapa pengalaman yang rencananya akan saya tuliskan antara lain:

Stay tuned … :D

Road to Java EE

Posted on March 27th, 2008

Another Frequently Asked Question.

Saya sudah menguasai Java Standard Edition dan sekarang mau belajar Java Enterprise Edition. Bagaimana learning-path-nya?

Inilah Road to Java Enterprise versi saya:
Read more »

Kutu Loncat

Posted on March 17th, 2008

Di milis Java sedang ribut urusan gaji programmer. Topik ini adalah topik abadi. Sepanjang hidup saya di milis ini, paling tidak urusan gaji dibahas setahun dua kali. Kadang-kadang lebih sering.

Kita tidak akan membahas tentang urusan gaji … mungkin nanti di posting berikutnya. Kita akan membahas tentang fenomena pindah kerja terlalu sering, a.k.a kutu loncat. Menurut salah seorang komentator, programmer Java cenderung kutu loncat.

Read more »

Kandidat Java vs PHP

Posted on February 6th, 2008

Disclaimer : kondisi dan pengalaman Anda SANGAT MUNGKIN BERBEDA.
Jadi jangan bilang saya salah … ini pengalaman pribadi.
Pengalaman Anda boleh saja berbeda, dan sangat dianjurkan untuk sharing.

Belakangan ini banyak yang nyari Programmer PHP yah :-d

Demikian tanggapan moderator milis JUG-Indonesia.

Saya mau sharing pengalaman sedikit tentang rekrutasi ArtiVisi beberapa hari yang lalu.
Rate salary di lowongan kemarin itu 2-3 juta rupiah, looking for PHP Programmer.

Ternyata, dengan rate salary segitu, para kandidat sudah mampu ‘melaju ke babak playoff’.
Begini maksudnya.
Read more »

Java Stack 2008

Posted on January 24th, 2008

Di milis Java sedang dibahas tentang kombinasi teknologi yang digunakan untuk membuat aplikasi Java.

Ada beberapa kategori teknologi, yaitu:

  • Presentation Layer. Yaitu teknologi untuk membangun User Interface
  • Business Layer. Yaitu teknologi untuk menyediakan logika proses bisnis.
  • Data Access Layer. Yaitu teknologi untuk mengakses penyimpanan data, misalnya database.
  • Security Framework. Teknologi untuk mengelola otentikasi dan otorisasi.
  • Build System. Sistem untuk mengotomasi proses build.
  • Testing System. Sistem untuk mengotomasi pengetesan aplikasi.
  • Application Server
  • Database Server
  • Project Management Tools. Perangkat pembantu untuk mengelola project.

Berikut adalah stack yang saya gunakan, per Januari 2008. Sesuai perkembangan jaman, mungkin sekali stack ini akan berubah. Read more »

Aplikasi Web dengan Spring 2.5 [bagian 6]

Posted on January 19th, 2008

Pada artikel kali ini, kita akan mengurusi masalah sepele tapi penting, yaitu Internationalization (i18n) dan Localization (l10n). i18n adalah menyiapkan aplikasi kita supaya bisa beradaptasi dengan berbagai bahasa, format penomoran, mata uang, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan globalisasi.

Para pembaca mungkin ada yang bertanya,

Ah, aplikasi saya tidak perlu multibahasa kok. Saya bikin dalam bahasa Inggris, dan tidak akan diubah-ubah lagi.

Baiklah, mungkin aplikasi kita tidak akan berganti bahasa. Tapi mungkin sekali akan terjadi banyak revisi tampilan. Kita sebagai programmer mungkin mahir berbahasa PHP, Java, Ruby, atau bahasa-bahasa komputer lainnya. Tetapi belum tentu kita dapat menyaingi seorang JS Badudu dalam urusan Bahasa Indonesia.

Oleh karena itu, penting untuk menyiapkan aplikasi kita agar setidaknya tulisan yang dilihat user bisa diganti dengan mudah.

Mari kita lihat template sederhana berikut.
Read more »