IPK Tiarap

Posted on August 29th, 2006 | by Endy Muhardin |

Disclaimer : tiap perusahaan dan interviewer beda-beda. Ini bukan patokan absolut. Yang saya tuliskan di sini hanyalah pengalaman pribadi disertai bumbu penyedap. Saya tidak bertanggung jawab atas segala rekomendasi di bawah. Penggunaan tips di bawah sepenuhnya adalah resiko pengguna.

Di milis Alumni STTTelkom, ada posting menarik, sebagai berikut:

mengapa sih perusahaan membuat rumusan sakral untuk rekrutasi pegawai yakni
IPK >= 2.75 ???

Segera saja saya merasa berkompeten untuk menjawabnya. Bukan apa-apa, IPK saya yang cuma 2.69 kan termasuk yang melanggar rumusan sakral di atas :P.

Berikut jawaban saya, saya paste di sini supaya khalayak ramai bisa ikut membaca dan berkomentar.

Alasan utama membatasi IP adalah untuk menyusutkan jumlah pelamar !!!

Batasan ini biasanya ada di posisi yang demandnya dikit, tapi supplynya berlimpah ruah.
Misalnya, entry level position, di mana kandidatnya adalah fresh grad semua
:D.

Coba bayangkan Anda sebagai petugas penerima karyawan baru.
Ada 15 tumpukan lamaran di meja Anda, masing-masing berisi 100 lamaran. Dan masih ada 23 tumpukan lagi di meja pojok ruangan. Kemudian office-boy datang dan mengantarkan 40 tumpukan lagi sambil berkata, “Di depan masih ada 4 kardus lagi Pak, sebentar saya mau ambil troli dulu .. gak kuat ngangkatnya.”

Nah, kuis singkat. Bagaimana cara memproses lamaran tersebut?
Jawaban bisa dikirim ke 8080 dengan SMS KUIS

Eh, tidak perlu … akan saya jawab sendiri.

Begini caranya.
Segera setelah si office-boy datang dengan troli dan 4 kardus lamaran, bilang ke dia, “Mas, tolong bantu saya ya. Coba ini lamaran dibuka, trus diperiksa satu-satu. Yang IPKnya lebih besar dari 2.75 kumpulkan di meja ini. Sisanya masukkan ke kardus kosong. Nanti kalo ada tukang loak lewat, dikiloin aja. Uangnya boleh buat Mas beli rokok.”

Beberapa jam kemudian, coba periksa hasil pekerjaan si Mas. Kalau tumpukan yang lolos masih tinggi, bilang ke dia, “Mas, revisi sedikit. Yang IPKnya lebih besar dari 3.00 kumpulkan di meja ini. Sisanya … bla .. bla … [silahkan diteruskan]”

Ulangi langkah di atas sampai jumlah lamaran < 20.

Wahh…. ternyata prosesnya begitu.
Tapi, gimana kalo IPnya tiarap?
Not to worry.

Dalam beberapa kesempatan sebagai decision maker rekrutmen, berikut faktor yang saya pertimbangkan:

1. Antusiasme, atau istilah kerennya, passion.
Semangat itu harus ada dan berapi-api.
Namanya juga fresh-grad .. masa gak semangat.
Ini juga berkaitan dengan masalah motivasi. Orang yang udah dari sananya semangat, gak sulit disuruh-suruh. Gak perlu dibujuk, ditawari insentif macam-macam. Intinya adalah, saya cari yang memang menyukai pekerjaan yang ditawarkan. Jadi tidak sekedar kerja saja.

2. Smart.
Biasanya di sini saya akan menanyakan problem solving question.
Dari cara problem solvingnya, saya bisa menilai apakah seseorang smart atau tidak.

3. Get things done.
Walaupun smart, tapi kalo gak bisa kerja percuma.
Saya akan minta diperlihatkan produk-produk yang sudah dihasilkan kandidat.
Kebetulan bidang saya adalah software development.
Biasanya saya minta didemokan software yang pernah dibuat.

4. Inisiatif, atau ‘kemampuan mengerjakan hal yang tidak wajib atas kemauan sendiri’
Orang yang biasa ‘take extra mile’ biasanya lebih bagus pekerjaannya dan tidak butuh banyak supervisi dan motivasi.

5. Free time, waktu luang.
Ini adalah indikator penting apakah kandidat tersebut ‘bisa berkembang’ atau tidak.
Orang yang berkembang akan memanfaatkan freetime nya untuk belajar hal baru, walaupun tidak disuruh.

Lebih lanjut bisa baca panduan Joel dalam interview :
http://joelonsoftware.com/articles/fog0000000073.html

Atau panduan mas Mbot di sini:
http://mbot.multiply.com/journal/item/274

Jadi, kalo IP anda tidak besar, jangan berkecil harapan, tips dari saya :

1. Punya koleksi portofolio hasil karya yang siap dipamerkan.
Buat dalam bentuk CD yang siap didemokan.

2. Sering-sering terima pekerjaan freelance walaupun gratisan.
Selain memperluas networking, juga tambah pengalaman dan mengasah problem solving skill. Kalau pekerjaannya tangible, tambahkan di koleksi portofolio

3. Latih inisiatif sehingga menjadi refleks.
Salah satu caranya adalah dengan aktif mengerjakan pekerjaan rumah seperti membereskan kamar, mendekorasi ruang kerja, berkebun, dsb.

4. Isi waktu luang dengan banyak belajar.
Sumber bisa diperoleh di internet atau toko buku

5. Banyak berkontribusi di komunitas, misalnya milis, forum, dsb.
Ini akan membuat kita menjadi terkenal sehingga nilai jual meningkat.

6. Jual diri anda dengan cara memiliki personal website.
Pasang semua portofolio di sana.
Tulis artikel yang dapat menunjukkan kapabilitas dan kompetensi kita.

7. Giat beribadah dan berdoa.
Penghasilan besar kalo korupsi percuma.
Jadi berdoa supaya dapat gaji besar yang halal.

8. Kasihanilah office boy, maksudnya petugas penerima karyawan baru.
Jangan melamar ke semua lowongan. Pilih yang benar-benar disukai dan dikuasai. Kalau belum menguasai, lihat #4. Bukan cuma perusahaan yang bisa selektif, kandidat juga dong.

9. Kalau Anda fresh graduate, jangan terlalu cerewet tentang salary.
Fokus fresh graduate, apalagi yang IPKnya tiarap, adalah sesegera mungkin meninggalkan status fresh graduate. Gimana caranya? Tentu saja dengan memiliki pengalaman kerja. Carilah pekerjaan yang walaupun gajinya kecil, tapi variatif dan besar tantangannya, juga bisa membuat kita tambah pintar. Biasanya ini bisa diperoleh di perusahaan kecil di mana orang biasanya merangkap pekerjaan.
Tenang saja, begitu kompetensi meningkat, salary pasti mengikuti. Keuntungan tambahan, sebagai pemilik IPK tiarap, persaingan di perusahaan kecil pasti tidak seketat di perusahaan besar yang pasang iklan di Kompas atau Republika.

Demikian, semoga bermanfaat.

  1. 4 Responses to “IPK Tiarap”

  2. By idring on Aug 23, 2007 | Reply

    nice.. saya termasuk yang tiarap juga neh.. :p.
    tapi bedanya saya orang yang kurang bisa ‘get things done’, jadi hasil belajar saya selalu prematur.. jadi gak ada yang bisa dipamerin. seringnya waktu ngerjain sesuatu keprovokasi sama orang untuk pindah ngerjain yang laen :p
    kasih saran dong gimana biar bisa get things done.. skarang sih lagi interest sama java, tapi gak tau sampe kapan masih bisa keep on track he he he..
    tapi artikel ini lumayan bikin saya semangat lagi …
    thanks ya …

  3. By endy on Aug 23, 2007 | Reply

    Saya juga orangnya bosenan dan senang hal2 baru. Ini tidak masalah, yang penting tau kiatnya.

    Tips dari saya, kalau mau pindah ke bidang lain (misal: tadinya PHP mau ke Java), buatlah ’sesuatu’ dulu dengan bidang yang sekarang, sebagai kenang-kenangan.

    ‘Sesuatu’ ini misalnya tutorial, buku, atau aplikasi.

    Tujuannya ada dua:
    - Sebagai portofolio, menunjukkan bahwa kita dulu pernah bisa
    - Sebagai pengingat siapa tau dikemudian hari butuh pengetahuan tersebut

  4. By Faisal on Sep 13, 2007 | Reply

    thanks berat pak endy,nasihat2nya berguna bgt buat saya…

Post a Comment