Katak dalam tempurung
Posted on April 19th, 2006 | by Endy Muhardin |Rupanya standar pengetahuan bagi programmer ala saya banyak mendapat protes di sana sini. Tidak hanya itu sebetulnya. Beberapa waktu yang lalu saya sempat posting di milis tentang standar pengetahuan seorang dosen pemrograman juga ala saya, yang pada intinya adalah:
- keep on learning, termasuk cara pakai version control
- bikin aplikasi yang berkualitas production (bukan cuma demo)
- sering-sering live coding
Rupanya banyak orang yang walaupun setuju, menganggap standar saya terlalu tinggi dengan alasan antara lain:
- standar tersebut tidak berlaku bagi freshman, tapi hanya untuk experienced
- dosen tidak perlu bisa teknis praktis (seperti menggunakan version control), cukup asisten lab saja. Dosen mah, teoritis saja.
- bukan bagian saya (kan sudah ada DBA, Network Admin, Architect, dsb)
- menurut spesifikasi Sun, tidak perlu bisa semua itu
Menurut saya, berbagai pendapat di atas ada benarnya. Tetapi mari kita tinggalkan sejenak soal benar-salahnya pendapat dan melihat dari perspektif lain.
Harus diakui, kita sangat jauh ketinggalan dalam hal teknologi informasi. Di luar negeri sana, dosen tidak hanya sekedar mengoceh di dalam kelas menjelaskan Teori Automata. Dia membuat implementasi parser, menyumbangkan parser tersebut menjadi open source, dan tidak lupa memasang foto konyol di website parser tersebut.
Di tempat lain, ada yang membuat version control yang mampu mengelola file binary (bukan hanya teks) dengan efisien. Tidak dapat diragukan, orang tersebut mengerti lebih dari satu algoritma diff untuk file binary, membandingkan semuanya, dan memilih yang paling baik. Dan ini dilakukan di waktu luang, sambil bermain musik.
Bagaimana dengan di Indonesia? Hmm .. pakai version control saja tidak bisa, apalagi bikin version control.
Dengan kenyataan seperti itu, sepertinya kita santai sekali kalau menganggap standar saya terlalu tinggi.
Seharusnya standar itu diset empat kali lebih tinggi lagi. Kenapa?
Begini.. misalnya standar kita sama dengan standar mereka, maka selisih pengetahuan kita dengan orang-orang bule tersebut akan tetap. Jadi kalo sekarang mereka 10 tahun lebih maju, pada 5 tahun yang akan datang kita akan tetap 10 tahun ketinggalan.
Iya dong, mereka kan juga berkembang.
Nah, kalo standar kita lebih tinggi daripada mereka, maka setiap tahun kita akan bisa menyusul sedikit demi sedikit, sehingga pada suatu saat nanti (hopefully) kita akan sama cerdas dan maju dengan mereka.
Jadi, sampai kapan kita mau terus berpuas diri? Seperti katak dalam tempurung. Kita kira kepala sudah menyundul langit, padahal yang dikira langit cuma batok kelapa. Sampai suatu saat ada orang yang menendang batok tersebut dan si katak (hopefully bukan kita) sadar kalo tempurung != langit.
Beruntung kalo cuma ditendang orang sehingga si katak sadar. Kalo digilas metromini? Gak sempat lihat langit deh. Sampai mati tetap beranggapan tempurung == langit.
Ok, mau sampai kapan santai terus? Mudah-mudahan tidak sampai semua emas, minyak, hutan Indonesia dihabiskan bule sehingga kita tinggal punya utang.
Mari belajar, berkarya, dan berkontribusi buat komunitas.
8 Responses to “Katak dalam tempurung”
By Arie on Apr 24, 2006 | Reply
Hey, I must say : I like this post
By anday on Apr 24, 2006 | Reply
Just Do it! Bebas aja sih kalo mau comment … lah standar kelulusan anak sekolah aja masih diperdebatkan kelayakannya padahal resmi loh, apalagi yang versi sendiri … peace !
By phie2t on Oct 6, 2006 | Reply
jadi malu neh :”>
By ghochi on Dec 22, 2006 | Reply
Ehmm.. bagus sekali … aku udah banyak wawasan ttg posisi S1 dan D3 dari seorang IT’ers
By Mardies on Nov 8, 2007 | Reply
Bos, SNAPnya dimatiin, donk! ngganggu banget. thx
By alien on Dec 6, 2007 | Reply
ada satu kesenjangan antara luar negeri dan dalam negeri yg patut juga dipertimbangkan menjadi tolak ukur kemajuan mereka. Yang paling kentara nih adalah budaya menulis buku dari para dosen dan pakar ITnya. di luar negeri sana setiap pakar IT maupun dosen seakan-akan mempunyai kewajiban moral untuk selalu menulis buku tentang hal-hal terbaru, khusunya dunia IT. sehingga transfer ilmu antara senior dan junior menjadi 2x atau bahkan 4x lebih cepat. Kemudian hal kedua yg patut di perhatikan adalah dari segi kualitas isi bukunya sendiri. kebanyakan buku2 IT Indonesia yang beredar dipasar, dari segi isi kalah jauh kualitasnya dibandingkan dengan buku2 luar negeri (walupun ada juga beberapa yang bagus tapi itu masih kurang). Entah ini karena apa??? Lha kita? boro-boro nulis buku, wong para dosen dan pakar ITnya pada sibuk ngerjain proyeknya masing2. mbok ya klo bisa diluangkan waktu buat nulis buku2 yang berkenaan dengan keilmuan ITnya. klo soal artikel mungkin sudah banyak kita lihat para pakar menulisnya di internet. Untuk itu terima kasih. Tapi tunggu dulu, kebanyakan dari artikel itu hanya mngupas sebagian saja. Tidak dimulai dari dasarnya. Jadi bagi kami para mahasiswa yg bodo dan belum tau apa2 jadi kebingungan gak tau harus mulai dari mana belajarnya. Gak semua mahasiswa kita mampu berbahasa inggris dengan baik (saya tau belajar bahasa inggris itu wajib hukumnya). tapi kita juga harus memperhitungkan teman2 kita yg memiliki semangat untuk belajar tapi mungkin dari sisi intelektualnya kurang. Apa lagi jika bukunya pke nahasa asing, akan tambah sulit lagi bagi mereka untuk mengerti. Kasihan kan dengan mereka. Ingat yang dibutuhkan untuk kamujuan adalah pemahan terhadap permasalahan, bukan gengsi bahasa asingnya. Teman saya pernah mengatakan klo dijepang, setiap buku asing yg masuk harus diterjemahkan terlebih dahulu dalam bahasa jepang. Itu sebebnya sebagian besar penduduk jepang tidak dapat berbahasa inggris, tapi kelebihannya mereka jadi lebih mudah memahami isi buku itu. Itu sebabnya mereka jadi maju. dan pada akhirnya bahasa merekalah yg justru kini dipelajari oleh dunia dikarenakan kemajuan negara mereka. Jadi mungkin masukan saya adalah, tolong usahakan bagi para pakar IT maupun dosen untuk memperbanyak menulis buku dengan kualitas isi yg mumpuni agar transfer ilmu kepada anak2 bangsa menjadi lebih baik lagi. dan pada akhirnya berakibat pada kemajuan indonesia kita tercinta ini. Mungkin juga akan membuat bahasa indonesia kita dipelajari oleh dunia. Amin…
By Aa Gin on Feb 13, 2008 | Reply
Sbg pemula yg otodidak saya berusaha ikut standar mas Endy
& Kebetulan bbrp point wawancara itu ada udah yg bisa dikuasai.