Kutu Loncat
Posted on March 17th, 2008 | by endy |Di milis Java sedang ribut urusan gaji programmer. Topik ini adalah topik abadi. Sepanjang hidup saya di milis ini, paling tidak urusan gaji dibahas setahun dua kali. Kadang-kadang lebih sering.
Kita tidak akan membahas tentang urusan gaji … mungkin nanti di posting berikutnya. Kita akan membahas tentang fenomena pindah kerja terlalu sering, a.k.a kutu loncat. Menurut salah seorang komentator, programmer Java cenderung kutu loncat.
Sedikit informasi latar belakang, sejak lulus di tahun 2001 sampai 2008 ini, saya sudah kerja di 7 perusahaan berbeda. Kalau dirata-rata, berarti tiap tahun pindah kerja. Saat ini saya membangun perusahaan sendiri. Jadi saya akan bahas dari sudut pandang karyawan, dan juga pemilik perusahaan.
Sudut Pandang Karyawan
Sebagai karyawan, pindah kerja itu hal yang biasa. Yang penting jangan terlalu sering, dan menggunakan sopan-santun yang benar.
Kalau kita terlalu sering pindah kerja, misalnya setahun 3 kali (berarti rata-rata 4 bulan), kita akan mengalami beberapa kesulitan.
Kesulitan pertama adalah dilema dalam mengupdate CV. Apakah 3 perusahaan tersebut akan kita tulis atau tidak? Kalau ditulis, HRD akan bertanya-tanya, ada apa dengan kandidat ini? Kok dalam satu tahun sudah pindah 3 kali. Terlalu menuntut, rewel, atau apa? Kalau tidak ditulis, HRD akan bertanya kenapa kandidat ini pengangguran beberapa bulan?
Kesulitan kedua, waktunya akan habis untuk masa transisi. Untuk bisa efektif, seorang karyawan butuh 1-2 bulan penyesuaian. Kalau kita resign, butuh waktu 2-4 minggu untuk transfer knowledge ke penerus kita. Kerugian di kita juga, kita tidak bisa mengakumulasi pengalaman.
Bagaimana sopan santunnya? Mudah saja:
- Beritahukan sedini mungkin. Idealnya 1 bulan, kalau tidak bisa ya minimal 2 minggu sebelumnya
- Selesaikan semua tanggung jawab dan hutang (kalau ada)
- Lakukan proses handover dengan benar
Kapan kita pindah kerja?
Menurut saya, bila:
- Pekerjaan kita sudah tidak lagi membuat kita tambah pintar
- Kompensasi yang kita terima tidak sebanding dengan kontribusi yang kita berikan
- Ada tawaran yang minimal 50% lebih besar (annually, bukan monthly). Kalau lebih sedikit dari itu, tidak sebanding dengan kerepotan pindah kerja.
Sudut Pandang Perusahaan
Kalau karyawannya bagus, perusahaan akan rugi kalau dia resign, karena:
- butuh waktu untuk rekrutasi
- butuh waktu untuk training
- butuh waktu untuk handover/transisi
Oleh karena itu, perusahaan harus berusaha mempertahankan karyawannya yang bagus. Apalagi untuk software development company. Komputer rusak gampang diganti, tapi top developer resign, urusannya jauh lebih kompleks. Keseluruhan daya saing perusahaan terletak pada otak karyawannya.
Untuk sudut pandang perusahaan, saya akan lebih fokus tentang bagaimana sudut pandang yang benar dalam memandang karyawannya.
Selalu berikan training. Training ini adalah untuk memastikan karyawan tersebut melakukan tugasnya dengan benar. Saya pernah dengar kutipan berikut, “Train your employee and risk they leave, or not train your employee and risk they stay”. Arti kutipan di atas, resiko kita bila memberikan training adalah bila karyawan resign, kita rugi biaya training. Sebaliknya, bila kita tidak memberikan training, kita menanggung resiko bila karyawan tersebut tidak perform dan tak kunjung resign.
Kesalahan besar yang lainnya, berkaitan dengan training, menganggap karyawan yang otodidak tidak butuh training. Ini pandangan yang sempit, menganggap bahwa training hanyalah sarana menambah knowledge belaka.
Training, apalagi external training, memiliki benefit lain disamping menambah pengetahuan:
- Memperluas wawasan
- Memperluas pergaulan
- Menimbulkan sense-of-significance dalam karyawan. Perasaan bahwa dia tidak semata diperah, tapi juga dibesarkan. Perasaan bahwa perusahaan peduli dengan peningkatan kemampuannya. Urusan bahwa materi tersebut bisa dipelajarinya sendiri tidaklah penting.
Evaluasi kompensasi vs kontribusi secara periodik. Karyawan yang baik kemampuannya akan cepat meningkat. Hari ini baru bisa Java Fundamental, enam bulan kemudian sudah mengerti Spring Framework. Peningkatan kemampuan jelas mengimplikasikan peningkatan market-value si karyawan.
Perusahaan harus memastikan bahwa dialah yang pertama mengetahui peningkatan kemampuan tersebut, dan kemudian mengapresiasinya. Di kantor tempat saya bekerja sebelumnya, banyak orang-orang hebat, yang kehebatannya baru disadari perusahaan setelah orang tersebut resign. Sungguh suatu kesia-siaan yang besar. Saya tidak tahu apakah perusahaan tidak bisa mengenali orang hebat, tidak mau mengapresiasi orang hebat, atau tidak mampu mengapresiasi dengan layak. Yang saya tahu hanya satu, orang hebat satu persatu meninggalkan perusahaan.
Jadi, perusahaan harus selalu mengamati perkembangan karyawannya. Sadari bahwa ulat sudah menjadi kupu-kupu. Kemudian berikan kompensasi yang sesuai.
Kompensasi tidak selalu berimplikasi naik gaji. Banyak kompensasi non-gaji yang bisa digunakan, diantaranya:
- menambah jatah cuti
- mengirim karyawan ikut event
- mengikutkan karyawan pelatihan
- mendorong karyawan ikut dalam kegiatan komunitas
- mengupgrade komputernya
- dan masih banyak teknik lainnya, asal Anda kreatif saja.
Kesalahan berikutnya, perusahaan, terutama startup, sering menganggap karyawan ber-etos kerja seperti founder. Karena foundernya kerja 10 jam sehari tanpa lembur, maka dianggap karyawannya juga akan rela melakukan hal serupa. Kalau foundernya Sabtu Minggu ngantor dengan gembira, dianggapnya karyawan juga harus ngantor di masa weekend sambil tersenyum. Bila client telat bayar, karyawan diharapkan akan mengerti.
Ini pemahaman yang salah. Karyawan tidak memiliki keterkaitan emosi terhadap perusahaan sekuat foundernya. Mereka punya kehidupan sendiri dan cita-cita sendiri. Perusahaan harus adil, kalau kerja lembur, berikanlah apresiasi yang sesuai. Berikan uang lembur, atau tambahkan jatah cutinya.
Sebagai penutup, saya menganggap perusahaan IT sama seperti klub sepakbola profesional, seperti Inter Milan atau Arsenal. Posisinya di klasemen, kekayaannya, jumlah fansnya, semua terutama ditentukan oleh siapa pelatihnya, dan siapa pemainnya. Tidak memperhatikan karyawan adalah langkah pertama menuju kegagalan.
12 Responses to “Kutu Loncat”
By shin on Mar 18, 2008 | Reply
“Tidak memperhatikan karyawan adalah langkah pertama menuju kegagalan”
Setujuuuuu
By Ies on Mar 18, 2008 | Reply
wah, uda gak dibalicamp lagi pak rupanya?
mending cari kerja keluar negeri kali ya, lebih dihargai..
By widi as on Mar 21, 2008 | Reply
Training saya rasa adalah sesuatu yang sangat penting untuk karyawan, dimana kita bisa mengupgrade ilmu sehingga kita akan memiliki senjata yang mumpuni untuk bertempur (Mendevelop Project).
Training adalah saat dimana kita berhenti bekerja sejenak untuk mengasah dan menambah kemampuan kita, ibarat bapak petani yang sedang mencangkul ladang, dimana dia berhenti sejenak untuk mengasah cangkulnya sehingga dia akan lebih mudah untuk mencangkul.
Dengan training juga biasanya si karyawan akan lebih bertanggung jawab terhadap pekerjaan karena merasa dia telah diperhatikan oleh perusahaan.
By deni on Mar 25, 2008 | Reply
pak endy … posting juga tentang kapan seorang karyawan IT seharusnya sudah menjadi wirausahawan IT seperti yang anda alami. Terimakasih.
By kus on Apr 4, 2008 | Reply
Kayanya perlu banget maen football manager
By Meychel Danius FS on Apr 5, 2008 | Reply
“Yang saya tahu hanya satu, orang hebat satu persatu meninggalkan perusahaan.”
saya sedikit terharu dengan kata2 ini, pas banget dengan keadaan tempat saya bekerja
By yudhiapr on Apr 15, 2008 | Reply
mantab nih, udah mulai merintis perusahaan sendiri.
memang, disaat menjadi ’seorang karyawan’ sudah tidak memenuhi hasrat yang ada didalam hati, maka satu-satunya jalan adalah dengan menjadi ‘pemilik perusahaan’ tersebut.
keep the spirit !
By someone on May 21, 2008 | Reply
hm, semua komen “menuntut” dari level karyawan, saya kira ada baiknya di level karyawan bisa *balance* bila sama-sama mendapatkan working place yang ideal (senang-sama-senang suka-saling-suka antar employee dan employer). Bagaimana bisa balance tsb, bisa jadi perbincangan menarik kalau saya bertemu dgn pak endy.
By daniel winata on May 23, 2008 | Reply
Kapan kita pindah kerja?
Menurut saya, bila:
* Pekerjaan kita sudah tidak lagi membuat kita tambah pintar
* Kompensasi yang kita terima tidak sebanding dengan kontribusi yang kita berikan
Thanx Pak Endy untuk postingnya, saya merasa lebih pasti untuk mengambil keputusan.
By jecki on May 26, 2008 | Reply
Very nice article.
“Train your employee and risk they leave, or not train your employee and risk they stay”.
Saya suka sekali kalimat di atas. Menyiratkan kalau semua itu ada resikonya, tapi kita harus bisa memilih dengan bijaksana.
Dari pengalaman saya terdahulu company sepertinya kurang kreatif dalam menjaga karyawannya agar semangat kerja dan tidak resign. Mungkinkah ini tugas dari HR department (kalau ada)?
Tapi di lain pihak memang karyawan harus profesional. IMHO seharusnya company dan karyawan saling ‘take care’ satu sama lain.
By vivan on May 28, 2008 | Reply
* Pekerjaan kita sudah tidak lagi membuat kita tambah pintar
* Kompensasi yang kita terima tidak sebanding dengan kontribusi yang kita berikan
* Ada tawaran yang minimal 50% lebih besar (annually, bukan monthly). Kalau lebih sedikit dari itu, tidak sebanding dengan kerepotan pindah kerja.
Kalo alasanmu yang mana Ndy?
By arian on Jun 17, 2008 | Reply
Remember in this game we call life
That no one said it’s fair.
Mungkinkah dunia pekerjaan khususnya IT ini bisa berubah? http://arian75.wordpress.com/2008/06/16/sei-cmmi-maturity-apakah-ada-perusahaan-it-indonesia-yang-mendapatkannya/